winnetou and old shutterhand di https://jelajahtapak.wordpress.com/2014/02/13/winnetou-and-old-shutterhand/

Winnetou And Old Shutterhand

Berkenalan dengan Winnetou ternyata asyik juga. Meski berbeda suku dan agama, tidak menjadi halangan buat saya untuk menjadi sahabatnya. Ia mengaku keturunan Indian asal Amerika, kehormatan menjadi Kepala Suku Apache di masyarakatnya justru menjadi kebanggan tersendiri buat saya untuk mengenal lebih jauh siapa lelaki perkasa itu. Tidak sedikit kawan bercerita tentang legenda petualangannya di padang-padang praire Amerika, yang dalam tindak-tanduknya begitu berani, teguh dan berwibawa.

Ia datang tiba-tiba ke tempat dimana hari itu saya sedang kedinginan di balik tenda di tengah guyuran hujan membabi buta, berlindung dari sapuan angin dingin di lembah Ciherang, sebuah lembah leluasa di cerukan Gunung Burangrang , Purwakarta.

Sosok Winnetou memang mempesona seperti yang sering diceritakan kawan sebaya. Tak disangka hari itu ia dekat dengan saya dengan tubuh tegap dan gurat wajah yang kian kentara, sementara  hujan di luar masih bergemuruh memukul atap tenda, suara pukulannya berebut dengan intonansi Winnetou yang masih terus bercerita tentang petualangannya di padang-padang praire keras dataran Amerika.

Winnetau And Old ShutterhandSi Kulit Merah.., demikian orang kulit putih menyebutnya- sangatlah membanggakan sahabatnya, seorang kulit putih yang jadi partner penjelajahannya.., Old Shutterhand…, namanya, meski di awal perkenalannya antara ia dan kawan barunya diwarnai konflik dan perbedaan tajam. Maklumlah keduanya lahir dari budaya yang berbeda.

Tetapi kenapa bisa jadi sahabat..? tanya saya dalam hati. Winnetou menghela nafas , pandangannya  menerawang jauh ke angka 1842-1912 saat dataran praire Amerika diserbu kaum kulit putih pendatang guna berburu emas dan hasil tambang lainnya di wilayah tanah leluhurnya.

Perburuan emas identik dengan pembangunan sarana transportasi jalan kereta api, setali tiga uang dengan perebutan wilayah, kekuasaan, resiko, tantangan, keberanian, ketahanan menghadapi situasi alam. Ada bau darah, nyawa  dan juga kesetiaan menjaga pada tanah leluhur.Winnetou And Old Shatterhand

Adalah seorang petualang yang menamakan dirinya der Forscher, demikian Winnetou membuka babak pembuka. Ia ahli dalam ilmu geodisi dan jago dalam ilmu ukur tanah yang memutuskan hijrah ke wilayah wild-wild west yang keras di sepanjang dataran Amerika. Tidak banyak yang tahu kalu dia juga seorang peneliti dan penulis buku dengan nama samaran Charley dari Jerman. Cakupan wilayah jelajah penelitiannya nyaris mendekati wilayah Barat Laut mendekati Texas, California, New Mexico dan Arizona.

Kaum ‘Kulit Pucat’.., demikian warga Indian menyebut orang kulit pendatang kerap diwarnai dengan konflik berkepanjangan antara keduanya. Konflik malah bisa terjadi antar kaum pendatang itu sendiri, penyebabnya hanya satu…emas..!. Di saat itulah Winnetou kerap menyaksikan tuan Foscher berkonflik dengan sesama pendatang, bahkan pada tingkat fisik sekalipun tuan Foscher selalu memenangkan perkelahian dan pertarungan dengan tangan kosong. Ya hanya dengan tangan kosongWinnetau And Old Shatterhand ia mampu merubuhkan lawan-lawannya, apalagi kalau pake senapan. Ia jagoan bela diri, unggul dan menang di setiap pertarungan.

Kelak di kemudia hari ia mendapatkan julukan dari suku-suku indian sebagai si “Tangan yang Menghancurkan”……, Old Shutterhand…!

Winnetou jatuh hati pada anak muda pemberani itu meski di awal pejumpaan, konflik diantara mereka membawa keduanya pada sebuah titik dimana perbedaan itu harus saling dihargai tanpa harus dilebur. Sebuah awal persahabatan yang manis yang tidak Winnetou And Old Shatterhandmemandang warna kulit, ras dan agama.

Keduanya bersahabat dalam susah dan senang. Yang paling mengagumkan, dalam konflik-konflik dengan fihak lain, Winnetou lebih banyak bertarung nyawa demi menyelamatkan sahabatnya itu

Lalu apakah Old Shutterhand datang ke wilayah Amerika buat berburu emas juga…, sehingga ia perlu bertarung dengan lainnya..?, sejenak Winnetou melambatkan ceritanya,ia geleng kepala, sambil kedua matanya menerawang jauh merekam peristiwa-peristiwa lama…..

Hmm..hujan diluar sudah mulai reda, arloji di tangan sudah bergeser ke angka lima, pertanda gelap sebentar lagi tiba. Saya harus siapkan bilah-bilah kayu bakar buat persiapan api ungun.

Winnetou saya larang keluar tenda, ia istirahat sementara di dalam tenda, siapa tahu nanti malam akan melanjutkan kisah-kisah pejelajahannya di tengah rimba yang sudah mulai hangat dengan suara-suara serangga.

Winnetou And Old Shatterhand

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *