teamwork di jeram cimanuk di https://jelajahtapak.wordpress.com/2014/02/21/teamwork-di-jeram-cimanuk-bag-1/

Teamwork Di Jeram Cimanuk

Hampir sepuluh tahun saya tidak pernah lagi menyentuh perahu karet. Kesibukan di tempat kerja seperti menutup kesempatan  menekuni  hobi lama bermain arung jeram di sungai-sungai yang memiliki tingkat kesulitan sedang hingga tingkat bahaya. Namun tadi pagi ada pesan pendek masuk ke HP jadul saya , pesannya jelas singkat dan padat..,’bila berkenan gabung di pengarungan kami tunggu di Bandung’.., begitulah pesan pendeknya.

Girang luar biasa, yang kirim pesan sahabat lama,  kami memang jarang berjumpa, saya samber saja ajakannya, mumpung Sabtu dan Minggu memang hari yang luar biasa.

Perjalanan Bandung-Jakarta mestinya bisa dihabiskan tiga jam saja, tapi situasi week end kerap membuat perjalanan yang mestinya nyaman jadi menyebalkan. Jalanan utama Pasteur yang jadi pintu pembuka menuju kota, macetnya luar biasa.

Teamwork Di Jeram Cimanuk
Mengatur Strategi Itu Sangat Perlu Sebelum Pengarungan

Bandung tidak seperti sepuluh tahun lalu, kemacetan di dalam kota sering menyiksa. Orang-orang Jakarta menjadikan kota sejuk ini menjadi tujuan wisata utamanya, entah yang belanja atau sekedar berburu kuliner di setiap sudut kota.

Saya harus menikmati kemacetan ini meski hati rasanya ingin cepat bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Nyaris hampir 3 jam juga bus yang saya tumpangi merayap tersendat di jalanan kota, macetnya hampir menyamai perjalanan Bandung Jakarta yang 3 jam juga lamanya.

Ada empat buah perahu karet yang sudah siap di mobil bak terbuka. Saya ikut berbangga, tidak sedikit teman-teman lama turut sibuk mempersiapkan kebeangkatan tim pengarung menuju kota Garut di ujung Timur Bandung Raya.

Saya larut dalam suasana keberangkatan, saling memeriksa kelengkapan dan periksa peralatan. Tidak kurang dari dua puluh orang siap berlaga di riam-riam S.Cimanuk yang karakteristik tingkat kesulitannya cukup menguras tenaga.

Teamwork Di Jeram Cimanuk
Mengatur Jeda Mengumpulkan Tenaga

Skenario operasi pengarungan yang disodorkan memang cukup menggoda. Setiap selesai mengarung maka tim akan kembali ke base camp utama di pusat kota, selanjutnya sisa pengarungan di ettape berikutnya harus dituntaskan di hari kedua.

Sebuah skenario yang cukup bijaksana tentunya dirancang dengan ragam pertimbangan yang masuk logika agar para pengarung yang sudah lama tidak ‘turun’ di sungai-sungai bahaya disituasikan sedemikian rupa agar tetap nyaman dan mulai terbiasa lagi bermain di alam terbuka.

Bagi saya sendiri pilihan skenario ini masuk akal juga, selain yang muda-muda tetap bersemangat main di alam terbuka, yang seniornya bisa belanja lalu kumpul saling berbagi pengalaman bersama.

Empat buah mobil sarat penumpang mulai meninggalkan markas pertemuan, saya memilih duduk di mobil bak terbuka bagian belakang, bersatu dengan alat dan kelengkapan pengarungan. Jadi ingat waktu masih jadi mahasiswa, naek mobil omprengan sambil nentengin ransel butut kemana-mana.

Jalanan mulus menuju luar kota sudah mulai terasa, siang itu hamparan sawah di kiri kanan mulai menghijau muda, tanda panen sudah berlalu, cuaca memang cukup bagus. Kabupaten Cicalengka yang jadi titik luar kota memang sudah terlewat, bau hawa desa mulai terasa.

G. Guntur di sebelah utara sudah kentara, beberapa menit lagi kami akan lewati kota Leles, kota kabupaten yang tidak banyak berubah lingkungannya, kecuali jejeran rumah makan yang makin beragam dimana-mana. Pelan-pelan, wilayah priangan timur ini menggeliat menjadi kota wisata.

Selain Semangat Perlu Juga Riang Gembira untuk teamwork di jeram cimanuk pada https://jelajahtapak.wordpress.com/2014/02/21/teamwork-di-jeram-cimanuk-bag-1/#more-1634
Selain Semangat Perlu Juga Riang Gembira

Kalau merujuk ke pusat kotanya masihlah jauh, tetapi baliho dan gapura ucapan “Selamat Datang” yang membentang menjadi pertanda bahwa mobil yang kami tumpangi sesaat lagi sudah akan masuk ke kota utamanya, Garut. Ya..nyaris hampir beberapa kali saya melewati kota ini bahkan bisa berhari-hari tinggal disini, entah itu ketika sedang melakukan pendakian ke G. Papandayan atau G.Cikuray, atau menjadi tempat istirahat yang mumpuni ketika melepas lelah usai perjalanan penyusuran pantai di tepian Pameungpeuk…ah.., cerita lama kembali ngumpul  lagi di memori saya.

Tiba di Warungkiara, desa kecil di luar kota sangatlah istimewa, pelangi tipis di punggung pegunungan G.Guntur sungguhlah mempesona. Arloji di tangan sudah menunjuk ke angka lima, beberapa saat lagi adzan magrib akan menggema.

Tempat inilah yang akan dijadikan base camp utama, pergerakan tim dan mobilisasi kendaraan dikendalikan dari sini juga. Malam ini kami akan istirahat, bermalam dan briefing untuk memastikan rencana pengarungan agar apa yang sudah direncanakan bisa lancar dan jauh dari kendala.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *