situ lembang tetap mencekam di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/03/12/situ-lembang-tetap-mencekam/

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam

Selepas tengah malam, Landrover meluncur meninggalkan Jakarta meniti jalur tol Cipularang pada kecepatan nyaris mendekati 80 km per jam. Saya sarankan pada kawan seperjalanan,  sebelum menuju ke tempat latihan istimewa nanti agar berhati-hati karena Danau “Situ Lembang” di kawasan Bandung Utara itu bukanlah tempat wisata biasa.

Perjalanan ke Situ Lembang bagi saya malam ini agak istimewa, karena tempat itu memiliki kisah panjang tersendiri

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Trek Utama Menuju Situ lembang

Bagi warga kota Bandung atau wilayah sekitarnya, Danau Situ Lembang adalah tempat wisata yang rada berbeda, mengapa demikian ?, karena peraturan dan tata tertib kunjungannya tidak seperti tempat-tempat wisata lainnya.

Danau Situ Lembang  terletak di kawasan Bandung Utara, tempat wisata ini berupa lembah yang luas dipagari deretan bukit-bukit dan punggungan Gunung Burangrang serta  Tangkupan Perahu.

Hawa dingin dan kabut yang kerap menyergap menjadi pemandangan yang biasa di tempat wisata yang memiliki ketinggian 725 meter di atas permukaan laut ini. Musim hujan adalah waktu terbaik untuk uji nyali. Jangan berharap merasa nyaman bila berada di tempat istimewa ini tanpa perlengkapan yang memadai.

Bisa tersiksa jadinya.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Danau Situ Lembang Dan Latar Belakang Gunung Tangkuban Perahu

Kawan sekerja akhirnya paham juga kalau perjalanan sederhana  ini harus betul-betul dinikmati, ia memang sangat bersemangat manakala keinginannya terpenuhi untuk diantar ke Situ Lembang, namun saya mewanti-wanti untuk  segera mengurus adminintrasi perijinan ke instansi  terkait daripada nanti diusir ketika sudah sampai di lokasi.

Saking bersemangatnya ia pun mengajak koleganya bergabung di tim ini dan jadilah malam ini kami membelah Jakarta Bandung pada kecepatan 80 km/jam.

Di kursi bagian belakang tujuh penumpang lain terkantuk-kantuk, menemani sisa malam yang belum sempat mereka nikmati. Maklum di hari Jum’at selepas kerja, kami bersepakat mencari suasana baru, keluar dari sumpeknya ibu kota, menuju Situ lembang, sebuah tempat tinggi berhawa dingin di lereng gunung Tangkuban Perahu, kawasan Bandung Utara.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Harus Ekstra Hati-Hati Saat Musim Hujan Tiba

Tidak seperti biasanya, saya sungguh menikmati perjalanan malam ini dengan lepas, tanpa beban. Niatnya juga memang ingin membunuh kejenuhan setelah seharian bersikutat dengan urusan pekerjaan sehari-hari.

Kilometer 88 jadi tempat ideal untuk melepas lelah, sekaligus mengistirahatkan 4WD keluaran 73 ini, mendinginkan mesin dan menghangatkan badan dengan secangkir kopi dan campuran jahe yang kami bawa dari Jakarta. Saya menikmatinya sejak tegukan pertama.

Denyut Batas Kota, Tempat Wisata, Bandung Memang Juaranya

Saya menyarankan agar perjalanan tahap dua bisa menderu lagi agar bisa mencapai batas kota Bandung sebelum subuh pagi. Telat sedikit saja, jalanan di batas kota bakalan dipenuhi lapak-lapak penjual sayur dan kebutuhan pokok lainnya yang bertebaran memenuhi badan jalan.

Pasar kaget bisa menjadi wisata istimewa sekaligus memacetkan lajunya kendaraan disepanjang lintasan, namun peristiwanya hanya terjadi di subuh pagi  itu pun berlangsung singkat

Denyut batas kota memang diawali dengan jejeran cahaya petromak, memadati trotoar dan badan jalan, geliatnya semakin memikat manakala lengkingan azan subuh menggema disetiap lekuk pemukiman perbatasan.

Sudah hampir lebih lima tahun saya tak pernah lagi melewati batas kota antara Cimahi- Bandung, yang merupakan satu satunya akses masuk yang mengantarkan para penikmat wisata alam terbuka menuju tepian Danau Situ Lembang. Namun pagi ini ada suasana lain yang bisa merubah ingatan saya seketika.

Situ Lembang Tetap Mencekam
Mengambil Panorama Situ Lembang

Rute angkutan pedesaan yang sewrawut dan jalanan yang sempit dan berlubang berubah wajah menjadi lebar dan mulus. Deretan  warung dan jongko-jongko pedagang berganti pertokoan. Pemukiman padat penduduk menjelma jadi jejeran perumahan mewah, memagari sisi kanan kiri jalan dengan arsitektur modern. Enak dipandang memang.

Yang tidak berubah adalah hawa dingin yang tetap menyergap melingkupi kawasan perbukitan, meliuk-liuk  kian menanjak.

Landrover mesti ekstra hati-hati di jalanan yang kian kaya belokan tajam, bila tidak piawai membawanya bisa terperosok.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Masalah Di Tengah Perjalanan Adalah Tantangan Luar Biasa

Lain lagi manakala kami sudah memasuki Cisarua, desa yang dijadikan entry point untuk memasuki kawasan utama yang dicirikan dengan plang besi membentang bertuliskan “Komando” diatasnya.

Ya memang kawasan ini kerap dijadikan tempat latihan bagi tentara yang memiliki  kualifikasi khusus di bidangnya.

Wisata Istimewa Situ Lembang Berubah Semua

Perubahan situasi fisik semakin kentara  meski gelap subuh samar-samar menyergap mata, saya tak mungkin terkecoh sejengkalpun dengan situasi tempat ini.

Selama satu dasa warsa kerap meghabiskan waktu, entah sendirian atau bersama sahabat lama melepas rindu di perbukitan Bandung Utara. Hamparan ladang sayur, bau tanah pegunungan, hembusan cemara dan keramahan desa kerap menginspirasi  seketika.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Peringatan Memasuki Gerbang Utama

Lima tahun lalu, selepas gerbang utama “pintu angin”, demikian kami  menyebutnya-,  pengunjung akan  dihadapkan pada kondisi jalan yang amat parah atau memang sengaja dibiarkan parah agar tempat ini tak sembarang orang bisa mendatanginya, apalagi mobil-mobil mewah lalu lalang di dalamnya.

Hanya kendaraan-kendaraan berat sekelas landrover atau truk militer yang bisa melenggang ringan, itupun dengan syarat pake kecepatan merayap bak kura-kura.

Pintu angin yang sama sekali ‘tidak berpintu’ ini sebenarnya hanyalah penanda, yang dicirikan dengan dua bongkahan batu di kiri dan kanannya sebagai tanda “akses pembuka’ bagi pengunjung yang akan masuk ke Situ lembang.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Butuh Kesabaran melintasi Kondisi Medan Yang Tidak Biasa

Sebuah warung yang sudah puluhan tahun menghuni kawasan ini jadi icon utamanya. Siapapun pasti akan mengenali siapa penjaganya.

Sekarang…, ‘pintu angin’ bukan lagi tempat batas imaji tapi realitas fisik, berupa portal yang bisa dinaik turunkan persis seperti portal-portal yang terpasang di kompleks – kompleks perumahan orang kota. Sebuah pos jaga tentara berdiri kokoh sebagai pengganti icon utama.

Benar..apa yang saya duga, apa yang dikatakan oleh kawan-kawan penggiat selama ini, bahwa kondisi jalan yang selama puluhan tahun parah,  kini beraspal mulus. Jalan bebatuan yang selama puluhan tahun hanya bisa dilewati kendaraan sekelas ‘off road’, nampaknya kini bisa dilalui mobil sekelas sedan.

Jangan harap merasakan ada guncangan yang bisa meremukan badan, yang terasa justru kenyamanan perjalanan.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Sisi Lain Ruang Barak Perwira.

Satu setengah jam terseok-seok di tengah belantara cemara jadi terhapus  sekejap. Butuh waktu lima belas menit saja untuk bisa menggapai Danau Situ Lembang. Itupun kita harus siap ijin di pintu gerbang kedua yang dijaga lebih khusus lagi, berupa pos penjagaan dan hadangan pintu teralis yang bisa digeser- geser.

Lengkap sudah perubahan drastis ini.

Di Danau Situ Lembang Aroma Mistis Kian Terasa

Lain lagi ketika memasuki areal lapangan utama Situ Lembang. Saya disuguhi ornamen marmer dan monumen batu berupa sosok prajurit komando yang tengah mendaki tebing cadas, berbekal ransel di punggung dan senjata laras melipat badan,  sebagai simbol ketangguhan.

Posisinya persis sebelum masuk lokasi utama yang terbuka. Lapangan parkir yang biasanya digunakan untuk memarkir truk-truk prajurit, mobil perwira dan kendaraan roda dua kini semakin luas, kian  tertata,  beralas rumput, tebal dan resik. Jangan harap menemukan secuil sampahpun. Peraturannya memang sangat ketat luar biasa.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Hawa Dingin Dan Kabut Di Situ lembang Adalah Biasa

Lapangan upacara jauh lebih luas dan lebar dengan trek joging sebagai pembatas luarnya. Tiang bendera yang kurus, menyedihkan dan kesepian kini lebih kokoh dan megah. Barak-barak prajurit berdinding papan berganti dengan dinding tembok berlapis batu ceper warna hitam. Angkuh, anggun, kuat.

Bangunan utama dan paling istimewa adalah ruang komandan, terbuat dari susunan batu bata merah bersilang dengan tiang-tiang kayu jati. Kokoh, tegar dan terkesan berwibawa. Posisinya paling tinggi diantara bangunan-bangunan lain, jauh lebih besar dan luas.

Sayang saya tak bisa melongok sembarangan ke dalamnya. Sejarah berdirinya renovasi Situ Lembang terukir rapi pada plakat yang tertera di dinding luar bangunan dengan penjelasan rinci.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Lapangan Upacara Di Tengah Rimba Belantara

Dan yang paling fenomenal adalah perubahan ruang kelas,  yang biasa digunakan oleh para siswa atau prajurit sebagai ruang belajar.

Selama puluhan tahun, yang namanya kelas adalah sebuah ruangan atau aula sederhana seluas lapangan bulutangkis dengan struktur fisik setengah tembok, berpagar ram kawat sebagai penyekat batas.

Bukan lantai keramik atau ubin teraso yang jadi lantai dasarnya, tapi adukan semen dan pasir yang kerap mengelupas. Kursi tempat belajar pun serupa bangku, terbuat dari papan, mirip bangku duduk yang sering saya lihat di pos-pos ronda kampung saya. Tapi sekarang semua itu tak ditemukan lagi.

Situ Lembang Tempat Latihan Dan Wisata Danau Bandung Yang Tetap Mencekam
Sudut Lain Tepian Danau Yang Sunyi.

Ruang kelas kini bergeser ke tempat yang lebih tinggi dengan luas bak hanggar pesawat udara pada posisi terbuka tanpa sekat.

Hembusan angin dingin dari delapan arah mata angin jadi kian mudah menyergap tanpa ampun. Saya hanya bisa tercenung menyaksikan semua perubahan fisik Situ Lembang dari batas hutan cemara tempat saya berdiri. Hanya satu yang tidak berubah …..,

Mencekam…!!!

Pagi, Siang dan Sore, Situ Lembang menghadirkan aroma warna berbeda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *