sangkuriang kesiangan di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/03/01/sangkuriang-kesiangan/

Sangkuriang Kesiangan

Sang putra perkasa Sangkuriang telah kembali dari pengembaraan lamanya, namun Dayang Sumbi, sang bunda, tidak rela bila putra semata wayangnya ingin menikahi dirinya. Namun karena sudah terikat janji maka permintaan membendung sungai agar menjadi telaga raksasa adalah prasyarat pertamanya, dan sebuah sampan besar yang akan dijadikan bahtera rumah tangganya adalah prasyarat berikutnya. Kedua syarat itu harus selesai sebelum fajar tiba.

Inilah taktik sang bunda agar  putranya kesulitan dalam  melaksanakan tugas musykil tersebut, sehingga perjanjian pinangan gagal terlaksana.

Tapi Sangkuriang bukanlah pemuda yang gampang menyerah begitu saja. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, dibendunglah S Citarum agar tercipta menjadi telaga raksasa, diukirlah sampan terindah yang terbuat dari tonggak tunggul-tunggul pohon terbaik yang tumbuh subur di Timur  hutan belantara, ditumpuknya ranting-ranting terkuat yang terserak di Barat  rimba tempat buruannya.

Sangkuriang Kesiangan
Pintu Dam Air Situ Lembang

 

Kekuatan cinta ternyata mampu mendorong sang pemuda untuk menyegerakan pekerjaannya, tapi sayang.., langit di cakrawala tiba-tiba berubah begitu cepatnya, warna memerah memenuhi angkasa, menyilaukan sang pemuda, rupanya datangnya fajar jauh lebih cepat dari apa yang ia duga, padahal pemuda tangguh itu tidak mengetahui bila warna merah terang di cakrawala  adalah irisan boeh rarang- sejenis tenunan kain sutra yang ditebar sang bunda, ia menyangka bahwa itu adalah fajar yang sesungguhnya. Gagal lah syarat yang diminta  kekasihnya, Dayang Sumbi, ibunya sendiri

Betapa marahnya dia, kekecewaan dan kemarahan dilampiaskannya dengan membabi buta pada karya yang  telah dibuatnya. Dengan segala kekuatannya, iapun menjebol bendungan yang telah dibuatnya, lalu menendang dengan sekuat tenaga ukiran perahu besar hasil karya seninya. Tendangan perahu itu kini menjelma jadi G Tangkubanperahu, ranting-ranting penahan bendungan raksasa itu kini berubah menjadi G Burangrang yaitu barisan  gunung-gunung yang memagari  wilayah kota, tonggak-tonggak tunggul pohon kini tersisa menjadi G Bukit Tunggul dan sisa-sisa banjir telaga raksasa meninggalkan wilayah cekungan danau di Bandung Raya.

Namun, misteri air mata kesedihan Dayang Sumbi kini masih tertinggal di cekungan sisa-sisa reruntuhan G Sunda Purba, cekungan yang menyisakan air mata kesedihan itu…..Situ Lembang…, namanya.

Wallahualam…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *