https://telapaku.com/q2kj4hf.php/perahu-tua-itu-oleng-juga/

Perahu Tua Itu…, Oleng Juga

Jembatan tua penghubung  desa Padabeunghar dan Cisokan tampak rapuh. Kelenturan  tali baja yang membentang di kedua ujungnya tak kuat lagi menahan beban. Lantai jembatan yang sudah uzur itu semakin gaduh manakala deru sepeda motor yang melintas di atasnya menggetarkan bentangan baja yang tampak berkarat dan lusuh.

Dari ujung jembatan, saya termangu memandang derasnya permukaan Cimandiri. Dari tepian seberang sungai, segerombolan anak-anak  kampung berloncatan.

Sambil bertelanjang dada, tubuhnya tenggelam terbawa arus, semenit kemudian  kepala-kepala mungil itu pada nyembul di permukaan, persis di bawah jembatan, lalu gesit memanjat tiang-tiang bambu penahan jembatan, dan berlari kembali ke posisi dimana tadi mereka melompat.

Begitu seterusnya. Jeritan dan teriakan tubuh-tubuh mungil itu memberi warna kegirangan tersendiri di sudut desa yang tak lagi sunyi itu.

Selama enam jam perjalanan Bandung –  Sukabumi, perasaan saya dibalut kesal. Landrover butut yang kami tumpangi kerap ngadat di tengah jalan. Padahal rentang 186 km perjalanan Bandung-Cianjur-Sukabumi mestinya bisa ditepis kurang dari empat jam.

Perahu Tua Itu Oleng Juga
Putaran Arus Membantu Perahu Menepi

Molornya pengarungan ditambah lagi dengan masalah tambahan dari perahu karet yang kami bawa. “Si Orange” julukan perahu kesayangan kami lagi ngambek, sambungan lapisan karetnya mengelupas.

Perahu karet yang sudah uzur itu memang sering mendapat perlakukan ekstra, lubang-lubang kebocoran sungguh sangat menyiksa sehingga genjotan pompa pengisi udara yang memenuhi bantalan perahu kerap terbuang percuma, padahal satu hari sebelum kami tinggalkan Bandung, upaya perbaikan sudah dilakukan seksama.

Selalu saja ada pekerjaan tambahan yang kami lakukan di lapangan, itu juga yang menyebabkan leletnya waktu pengarungan. Padahal arloji di tangan nyaris sudah bergeser ke angka setengah dua.

Tapi kekesalan saya agak terhibur. Gadi-gadis kampung yang beranjak dewasa bergerombol di tepian kubangan batu, mencuci pakaian, sambil sesekali melirik, jauh dari lokasi dimana anak-anak itu  melompat, Sisa-sisa detergen putih limbah cucian dengan cepat lenyap ditelan derasnya sungai.  Ketika suara berat adzan zuhur menggema, satu persatu mereka beranjak meninggalkan Cimandiri yang tetap gagah dengan gemuruh kesahajaannya..

Wanda dan Yopi,  dua personil yang tergabung di tim pengarungan mengacungkan kedua ibu jarinya, itu pertanda kalau perbaikan perahu usai dilakukan. Mereka berdua lah yang  paling mengerti teknis pengeleman dan perbaikan.

Saya bergegas turun dari ujung jembatan sembari menenteng sejumlah  pelampung dan seperangkat dayung yang lumayan berat. Bima yang tak banyak bicara dan Tati-satu-satunya perempuan dalam tim ini sudah siap dengan bekal makan, padahal jeda siang sudah lewat.

Perahu Tua Itu Oleng Juga
Kompak Mengendalikan Laju Perahu

Penempatan personil pengarungan dibagi dalam formasi 2:2:1 artinya 2 sebelah kanan dan dua  sebelah kiri. Saya kebagian duduk di tabung bagian  kiri pojok depan,  memunggungi Bima yang persis di belakang. Wanda dan Tati menempati bantalan sebelah kanan. Satu orang leader (skiper) ditempati Yopi di bantalan paling belakang. Dialah nantinya yang akan mengendalikan jalannnya pengarungan.

Jembatan Padabeunghar yang dijadikan starting point perlahan kami tinggalkan, lambaian sebagian warga kampung yang sedari tadi menonton seperti memberikan ucapan  selamat jalan. Senyuman mereka yang tulus menghilang seiring perahu karet yang kami tumpangi lenyap menjauhi jembatan.ada permulaan pengarungan pertama ini rasanya lega juga, terasa nyaman naik perahu karet di sungai yang airnya sudah tidak bening ini.

Tidak perlu tenaga besar untuk mendayung karena secara otomatis laju perahu terbawa arus permukaan air. Riak-riak permukaan sungai yang berhulu di gunung gede pangrango ini bisa terpecah ke segala arah, membentuk garis-garis putih seolah memberi pilihan pada awak pendayung untuk memilih dan memilah jalur yang disuka.

Bentangan sawah yang terhampar di seberang kiri dan kanan sungai bisa cepat berganti secepat lajunya perahu. Jejeran pohon  rapat dan lebat  memagari tepian sungai yang lebarnya hampir lima belas meter ini.

Arus Air Harus Mampu Dikendalikan di perahu tua itu oleng juga saat berada di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/03/13/perahu-tua-itu-oleng-juga/
Arus Air Harus Mampu Dikendalikan

Batu-batu persegi seukuran lemari kerap nyembul di permukaan air, menghadang dan menghalangi lintasan. Letak bebatuan yang terserak disepanjang sungai menyajikan susunan komposisi penempatan yang alami. Bongkahan-bongkahannya yang menancap kukuh di dasar sungai  malah mampu memecah arus menjadi aliran yang bisa terbelah kemana-mana.

Menghadapi hambatan lintasan seperti ini dibutuhkan kepiawaian awak perahu untuk selalu menjaga kekompakan agar tubuh perahu tidak terlalu sering membentur batu. Tiga puluh menit berlalu sudah. Terik matahari yang sejak awal keberangkatan memanggang kepala, berubah begitu cepat menjadi keteduhan yang menyejukan. Tapi saya curiga dengan perubahan udara secepat ini.

 

Stop…!!! tiba-tiba suara sang skiper di belakang kemudi memecah kesunyian. Saya tergagap sesaat. Ia berdiri sigap mengamati medan sekitar, tatapannya serius menyapu ke segala arah, kuamati yang lain juga dalam posisi siap.

Seekor biawak yang nangkring di tepi batu tampak menguap, kedua matanya yang sipit bengong menatap. Sejumput kemudian hewan melata ini lenyap, menyeruak ke balik semak. Laju perahu terasa bergerak agak cepat padahal tak seorangpun mengayuh. Gerakan perahu terbawa arus sungai yang menguat. Gradien sungai mulai menurun. Sayup-sayup di kejauhan terdengar suara gemuruh. Kupegang dayung bambu dengan erat. Sang skiper kasih aba-aba singkat

“Dayung maju…!! sergahnya. Sayapun jadi terbawa sigap. Di depan mata tampak sebidang lahan  ditumbuhi ragam perdu, rumput dan ilalang. Tumpukan kerikil terserak diatas gundukan-gundukan tanah pasir membentuk pulau kecil.

Tebaran  bongkahan batuan seukuran panci hingga segede kuali,  berserak tak beraturan, gundukannya memenuhi lahan sempit seluas setengah lapangan bulutangkis.., hmm..bisa jadi sebuah delta.  Tapi lho kok ada sungai  lain yang juga ikut menyatu dengan sungai utamanya ?.

Pertemuan kedua sungai membentuk pecahan arus, menyajikan buih-buih gelombang putih. Semakin dekat gemuruhnya semakin hebat.

“Kanan kuat”…“kanan kuat”…, berulang kali sang skiper perintahkan aba-aba. Posisi perahu nyaris  membentuk sudut empat puluh lima derajat. Moncongnya dihadapkan langsung pada titik pertemuan kedua sungai. Busseet….rupanya ia ingin menyerang titik pertemuan itu, tapi perkiraan saya meleset, skiper tiba-tiba merubah aba-aba kiri kuat yang menyebabkan perahu kini berada pada posisi siap melintang diantara tubrukan arus..

Ahoii…, ternyata ia berusaha mengarahkan badan perahu agar  bisa  masuk ke arus utamanya agar tak dibanting pukulan gelombang yang menyebabkan perahu bisa terbalik. Saya jadi paham dengan pilihan  yang ia ambil. Tapi belum selesai dengan ketercengangan, tiba-tiba ia perintahkan dayung kuat. Semua awak bergerak sigap, posisi perahu yang sudah lurus kini masuk pada titik pertemuan arus.., fuiihh.!!! perahu bergetar hebat, olengannya nyaris memuntahkan penumpangnya………

Di tepian sungai purba, jejak sejarah jeram-jeram yang dalam haruslah mampu dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *