kecak sanghyang di https://jelajahtapak.wordpress.com/2015/03/16/kecak-sanghyang/

Kecak Sanghyang

Diciptakan seniman Wayan Limbak dari Bali, bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies pada tahun 1930 an, maka ‘kecak’ menjadi sebuah tarian penuh ritmis, memukau ratusan penonton di tribun utama, membentuk setengah lingkaran mirip coloseum kecil, didesain menjadi panggung teater terbuka di ujung Uluwatu, Bali. Tarian ini pula yang melanglangbuana ke belahan dunia, gerak rancak penari membuat kagum siapa saja yang menyaksikannya, termasuk saya.

Kisah cerita yang dibentuk lewat hentakan tarian bisa beragam, umumnya diambil dari kisah-kisah dan legenda Ramayana, bisa kisah yang utuh atau mengambil bagian-bagiannya, namun apapun pilihannya, menontonnya tetap menggoda.

Kecak Sanghyang
Para Dayang Pengawal Dewi Shinta

Memang tidak sembarangan mencipta karya seni tari berkelas dunia. Kecak merunut pada tradisi ritual Sanghyang, yaitu tradisi tarian yang para penarinya pada situasi tertentu berada pada kondisi tidak sadar untuk melakukan komunikasi dengam Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Ritual upacara tarian dimulai dengan masuknya seseorang, mirip pendeta, sambil membawa dupa ke tengah arena. Menyimpratkan bulir-bulir air dari pundi berlapis perak ke sekeliling area, dibarengi do’a – do’a. Mata para penonton yang memenuhi tribun tertuju pada sang pendeta dengan baju putih dan kembang kemboja kuning terselip tipis di sisi telinga, ratusan kamera siap siaga, menunggu datangnya puluhan penari pria masuk ke tengah arena.

Kecak Sanghyang
Dewi Shinta Yang Lembut Namun Perkasa

Matahari mulai bergeser ke tepian Uluwatu, pertanda datangnya senja, warna langit tidak lagi biru, nyaris berubah ke warna ungu, tiba-tiba kami dikagetkan dengan munculnya puluhan penari merangsek ke tengah arena dari berbagai pintu, tanpa diiringi tabuhan musik mendayu-dayu, tapi irama decak dan suara cak..cak…cak..dari mulut para penari itulah yang jadi roh musiknya.

Tangan-tangan terangkat ke angkasa, puluhan jemari para penari bergetar liar, temponya berirama, lalu suara ‘cak..cak…’ yang menggeletar menghentikannya tiba-tiba. Lingkaran penari menjadi sepi, hening seketika..,riuh tepukan penonton di tribun utama membahana, sebagian besar adalah turis mancanegara.

Opening kecak barulah gerakan pembuka, tapi mempesona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *