la rue didouche mourad di https://jelajahtapak.wordpress.com/2015/03/24/la-rue-didouche-mourad/

Jika Ingin Menikmati Nuansa Eropah Di Ibu Kota AlJazair, Jelajahilah Jalan Sepanjang “La Rue Didouche Mourad”

Jika Ingin Menikmati Nuansa Eropah Di Ibu Kota Aljazair, Jelajahilah Jalan Sepanjang “La Rue Didouche Mourad”

Pagi masih diselimuti kabut di jantung Aljazair, saya keluar dari hotel lalu berjalan menelusuri trotoar yang lega dan lebar. Ubin-ubin pedestrian sepanjang trotoar tertata rapih, tersusun dari batuan marmer berkelas tinggi, ukurannya mendekati 2×2 meter.

Sepanjang trotoar berderet pot-pot bunga besar, juga masih terbuat dari marmer, deretan pot belum jelas dimana ujungnya. Pot bunga berfungsi seperti pagar pembatas antara jalan raya yang lebar dan trotoar yang lega. Jalanan pagi itu masih sepi

Kota yang mulai disapa musim dingin cuacanya mulai menggigit, belum nampak kesibukan di jantung kota. Saya pikir ini waktu yang pas untuk mengambil gambar-gambar seputar alun-alun kota sebelum tempat ini ramai didatangi manusia.

Kantor Pos Tua Grande La Rue Didouche Mourad
Jalanan Masih Sepi di La Rue Didouche Mourad.

Alun-alun di kota Aljazair mirip seperti alun-alun di kota-kota besar Indonesia. Yang membedakannya adalah bangunan-bangunan tua sisa karya arsitektur bergaya Eropah, sentuhan seni ala Perancis sangat kentara pada monumen dan bangunan-bangunan perkasa yang mengelilinginya, aroma seni itu pula yang saya rasakan di lantai lima hotel tua, tempat saya bermalam.

Tadinya saya menyangka bila penduduk Aljazair tak jauh beda dengan kebanyakan suku-suku benua Afrika lainnya, berkulit hitam, dengan pakaian tradisional dan rambut ikal hitamnya

Tetapi selama dua hari tinggal di jantung kota saya tidak menemukan apa yang saya duga, dan secara tak sengaja pagi ini berpapasan dengan sekelompok anak-anak muda, tiga pria, lima wanita, sepertinya mereka mahasiswa. Berjalan cepat terburu-buru, mungkin mengejar waktu.

Jalan Arteri Ibu Kota Aljazair Bersih Tertata
Menjelang Siang Kesibukan Warga Kota Di Jalan Arteri Kota Aljazair

Saat berpapasan, wangi parfum menyengat terasa, baik pria maupun wanita. Alas kaki yang dikenakan para wanita mengingatkan saya pada layar bioskop Perancis yang dibintangi bintang film jelita. Sepatu boot tinggi menutupi betis dan ujung kaki, blazer-blazer tebal dan slayer lembut melingkar anggun di leher.

Yang membuat saya terkesima bukan pada cantik dan tampan nya paras mereka tapi tatanan model rambutnya yang beraneka, berwarna tapi tidak norak, namun jauh dari gaya harajuku di negeri Sakura sana.

Saya tidak tahu apakah lembaran kain pasminal segi tiga yang dikenakan pada penutup kepala wanita adalah hijab seperti yang saya kenal di Indonesia, tapi sekilas pemakaiannnya mirip para perempuan di film-film India, tidak menutup seluruh kepala apalagi sampai menutup muka.

Saya bergumam …”ini Model apa Mahasiswa… ?”

Para pria jauh lebih modis, hanya pakaiannya yang lebih casual, rata-rata bertubuh atletis, proporsional untuk ukuran seusianya. Sepatu sportif dan jeans melekat kuat. Jadi inget Zidan pemain sepakbola Eropah berdarah Aljazair kalau pada ngelihat wajah-wajahnya.

Berparas Arab tapi kentara Eropah nya, lalu dimana warna kulit hitam Afrikanya ?

Kantor Pos Besar itu Bernama La Rue Didouche Mourad

Sesungguhnya dengan menggunakan taksi dari hotel menuju ke jantung keramaian kota bisa ditempuh tiga puluh menit saja, tapi saya sengaja memilih jalan kaki dari tempat menginap, tujuannya plaza La Rue Didouche Mourad

La Rue Didouche Mourad, mengacu pada nama sebuah gedung tua peninggalan kolonial Perancis.

Nama gedung identik dengan nama lokasi yang jadi pusat perbelanjaan dan keramaian paling padat di jantung kota. La Rue Didouche Mourad adalah kantor pos besar, dibangun saat masa kolonial. Saat ini kemegahannya masih terasa.

Kepadatan Pusat Perbelanjaan Ibu Kota Aljazair Mulai Terasa
Kepadatan Pusat Perbelanjaan Mulai Terasa

Sepanjang jalan, gedung-gedung bernuansa arsitektur Eropah berderet perkasa, difungsikan menjadi gedung-gedung pemerintahan, bank, pusat-pusat perkantoran, restoran , toko dan café, tidak sedikit juga menjadi pemukiman warga kota dari kelas berbeda.

Nama-nama kafe dan restoran merujuk pada kosa kata Perancis, bukan kosa kata Arab pada umumnya.

Kota ini dibangun pada akhir abad ke 19, jalan yang tengah saya jelajahi adalah jalan utama di jantung kota Aljazair ketika negeri ini masih di bawah pendudukan koloni Perancis.

Prancis ingin memiliki kota ini sebagai pusat pemerintahan dan merancangnya menjadi pusat kota yang megah layaknya ibu kota Paris.

Bakconie Colonial Architecture Didouche Mourad Street
Jendela-Jendela Balcon Arsitekture Kolonial Di Rue Didouche Mourad, Photo by M.Torres.

Kini jalan besar itu sudah menjadi ikon tersendiri bagi Aljazair. Mall –mall dan toko-toko terbaik berderet mengelilingi plaza utama, butik-butik pilihan bisa menjadi salah satu kunjungan yang tidak boleh dilewati, memilih souvenir – souvenir dan menawar gaun-gaun artistik mungkin jadi impian pilihan berikutnya.

Budaya artistik gaun dan fashion Perancis amat kental mewarnai model busana keseharian penduduk warga kota, untuk urusan fashion, Perancis memang juaranya, begitu juga sisa – sisa gedung yang ditinggalkannya, termasuk gedung kantor pos tua, La Rue Didouche Mourad namanya.

Bar Café Dan Restorant

Saya berkeliling di seputar pusat metro perbelanjaan, dari satu toko ke toko lain, dari butik yang satu ke butik yang lain. Bukan untuk berbelanja tapi tidak ingin melewatkan satu jengkalpun sudut-sudut keramaian pusat perbelanjaan sisa peradaban lama Eropah.

Kita dapat menemukan banyak toko-toko bagus , pakaian-pakaian, sepatu-sepatu brand dunia, ragam assesori dan pernik dan tentu saja souvenir-souvenir cantik di sini.

Seperti pusat-pusat kota lainnya di dunia, dari pusat perbelanjaan ini kita bisa menggunakan taksi untuk menuju ke kota-kota kecil lainnya. Tapi jangan dibayangkan seperti taksi-taksi di Jakarta atau kota-kota modern lainnya. Di sini masih terjadi tawar menawar harga.

Sudut Kota Aljazair Dan Deretan Aesitektur Bergaya Haussman
Sudut Kota Aljazair Dan Deretan Aesitektur Bergaya Haussman Menjelang Siang

Selain baik bagi pejalan kaki, La Rue Didouche Mourad dapat diakses melalui jaringan kereta bawah tanah, bus, dan taksi, sehingga pengunjung dari bagian lain kota dapat dengan mudah melakukan perjalanan dan menikmati kehidupan yang semarak di sepanjang jalan ini dan sekitarnya.

Beberapa café yang bertebaran sepanjang trotoar menjadi pilihan jika merasa lapar. Tenda-tenda, kursi dan meja café ditata di ruang terbuka.  Ada banyak pilihan menu makanan dan minuman, dibayar dengan hanya beberapa lembar dinar, masih murah untuk ukuran saya

Café-café jalanan mulai dibuka pukul 4 sore, saat itu pula detak kehidupan mulai semarak, pengunjung dan wisatawan mulai rame, mereka berdatangan dari berbagai sudut kota, sangat jarang orang yang datang menggunakan motor, kebanyakan menggunakan mobil-mobil keluaran Eropah , semacam Fiat, Peugeot atau Renault, tapi penduduk warga kota yang berjalan kaki tak kalah banyak jumlahnya.

Jarang sekali mobil-mobil keluaran Jepang berkeliaran di di kota ini.

Arsitektur Eropah Sepanjang Kota Aljazair Di Sudut Rue Didouche Mourad
Arsitektur Eropah Sepanjang Kota Aljazair Di Sudut Rue Didouche Mourad

Menjelang malam, café-café yang artistik itu terasa benar elegantnya, pot-pot bunga yang membatasi antara satu café dengan café lainnya disepanjang trotoar itu jadi semakin indah tersorot lampu-lampu temaram penghias taman dan jalan.

Bila anda ingin menikmati malam dengan suasana yang rada beda, maka Bar dan Restorant menjadi pilihan berikutnya. Hampir sebagian besar yang saya temui, bar dan restorant menempati bangunan-bangunan tua berarsitektur klasik Eropah.

Deretan pepohonan besar yang meneduhkan di sepanjang jalan utama Rue Didouche Mourad menjadi tempat yang tepat bagi pengunjung dan wisatawan untuk duduk, berkumpul, atau sekedar menyaksikan orang-orang yang lalu lalang.

Trotoar Yang Lega Dan Taksi-Taksi Mewarnai Geliat Kota
Trotoar Yang Lega Dan Taksi-Taksi Mewarnai Geliat Kota

Bila ingin menikmati semaraknya Rue Didouche Mourad dan mencium aroma busana ala Eropah yang dikenakan warga kota, datanglah menjelang malam selepas maghrib, kerlap-kerlip lampu cahaya kota akan menemani anda disana.

Anda akan jatuh cinta pada kota tua kebanggan Aljazair ini

Saya tidak memilih café yang berderet disepanjang trotoar, tetapi lebih suka memilih meja di restoran kecil yang posisinya jauh lebih tinggi agar bisa menyapu pandangan ke seluruh jalan.

Dari tempat ini pula saya leluasa mengambil beberapa gambar

Setangkup roti, aneka salad dan beberapa cangkir kopi Arabika yang disaji menjadi kawan sejati di sebuah titik lokasi jauh di belahan Afrika Utara.

La Rue Didouche Mourad menjelang malam semakin dingin rasanya

La Rue Didouche Mourad Menjadi Istimewa bagi Kota Aljazair

La dalam serapan Indonesia artinya “jalan”, Rue Didouche Mourad adalah “nama orang”

Selama masa pendudukannya di Aljazair pada akhir abad ke-19, orang- orang Prancis menciptakan dan membangun kawasan ini yang dikenal sebagai Rue Michelet, namun selepas Aljazair merdeka, distrik ini berganti nama menjadi Rue Didouche Mourad, sebagai penghargaan dan penghormatan bagi seorang pahlawan besar revolusi Aljazair, Rue Didouche Mourad

Oleh karena itu seluruh jalan-jalan penghubung di wilayah sekitarnya yang mengarah ke distrik Rue Michelet dibangun dan di desain menyerupai jalan raya seperti di Paris.

Selagi Pagi Jalan-Jalan Utama Masih Sepi di Kota Aljazair
Selagi Pagi Jalan-Jalan Utama Masih Sepi

Sedangkan gedung-gedungnya bergaya arsitektur Haussmann. Hingga kini kesemua aset masih terpelihara dengan baik.

Dengan perpaduan klasik antara pola-pola bisnis lama dan baru yang melayani penduduk warga kota, pengunjung dan wisatawan, La Rue Didouche Mourad telah menjadi objek wisata yang menarik dan populer, sekaligus menjadi tempat tinggal, juga menjadi landmark sejarah dan budaya bagi kota Aljazair.

Gedung Grande Poste atau Kantor Pos Lama di sebelah utara lah contohnya.

Bisa jadi, jalan – jalan utama di pusat kota Aljazair tidak dianggap sebagai sebuah kota biasa, namun sudah menjadi monumen khusus bagi negara. Dirawat dan dijaga menjadi salah satu tujuan wisata terkemuka.

Jelajahi saja setiap jalan di sudut-sudut kota, niscaya kita akan merasakan suasana Eropah di jantung Afrika Utara.

Tengok saja gedung Belle Epoque yang bergaya Haussmanian, bagian depan nya saja membuat Anda merasa seperti sedang berbelanja di Paris, padahal gedung itu adalah toko yang menjual ragam jenis pakaian olahraga, sepatu, asesoris dan beberapa seni kerajinan lokal tersedia.

Jika Anda berniat menjelajah sepanjang Avenue Rue Didouche Mourad dengan tujuan wisata belanja, maka datanglah siang atau sore hari, ini adalah jam-jam paling sibuk dimana kebisingan kendaraan dan asap rokok lumayan mengganggu, namun bila anda penikmat ragam kuliner yang beraneka cita rasa Eropah jangan lewatkan untuk berkunjung di malam hari.

Tetapi bila anda penikmat suasana ruang terbuka, pagi hari adalah pilihan yang pas, mengapa, karena toko-toko dan pusat kegiatan belanja baru buka jam 09.00. pagi, suasana lebih sepi, apalagi di akhir pekan hampir sebagian pusat perbelanjaan tutup.

Sebagian besar penduduk warga kota yang kami temui sangat ramah, sopan dan saya merasa cukup aman bahkan di malam hari sekalipun.

Saya kembali ke hotel selepas makan malam dari tempat ini.

La Rouche Didouche Mourad, kota tua di jantung Aljazair membawa catatan tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *