gelombang vitamin t sungguh memikat di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/02/29/gelombang-vitamin-t-sungguh-memikat/

Gelombang Vitamin T..,Sungguh Memikat…!!

Beberapa hari ini pikiran diikat oleh sesuatu setelah membaca buku kecil seukuran notes berjudul “Lincah Menulis Pandai Berbicara”, karangan AS Romli. Tak kurang dari hitungan jam, buku tipis itu saya lahap tuntas. Efeknya luar biasa..!. Hari berikutnya saya kunjungi toko buku yang sama, niatnya mencari buku sejenis dengan tema yang tak jauh beda, tetapi tiba-tiba mata tertuju pada bungkusan berlabel “Vitamin T”, apa pula ini..?.Saya pungut hati-hati meski masih  terbungkus rapi, memberanikan diri merogoh kocek untuk membawa pergi dan memilikinya.

Selepas Isya hingga menjelang tengah malam , bungkusan saya buka lalu coba mengunyahnya, hmm…semakin lama semakin terasa nikmatnya, komposisinya terasa menggoda, nyaris membius isi syaraf di kepala. Vitamin T  kian menenggelamkan fikiran lalu menyingkirkan kebiasaan jelek saya begadang tiap malam tanpa melakukan aktifitas apa-apa….Edan…!

 

Bak sungai mengalir, semakin laju ke muara semakin berirama riaknya. Gelombang Vitamin T menggiring saya memasuki rasa kepenasaran. Imajinasi terus dkocok dan pada titik tertentu beberapa peristiwa lama berdatangan memenuhi kepala, seperti ada energi yang mendorong dan membakar semangat untuk segera menggerakan jari-jari tangan. Saya ambil alat tulis dan beberapa kertas kosong,..ajaib… jemari tergerak begitu saja, mencatat apa  yang ingin saya catat.

Hari-hari berikutnya, segala sesuatu  yang semestinya saya lakukan di tempat kerja menjadi tidak menarik. Vitamin T telah meracuni fikiran  hingga ke ubun-ubun paling dalam, bahkan ketika tengah berdinas di luar kota pun, Vitamin T selalu saya bawa, berdesakan di dalam ransel kecil untuk bisa jadi teman perjalanan yang mengasyikan atau malah jadi kawan yang menentramkan manakala tak ada kesibukan di tempat tujuan. Gara-gara Vitamin  T  juga, urusan kerja bisa jadi nomor 2.

Ada pengalaman yang tidak pernah saya lupa saat mendapat tugas keluar kota. Ketika urusan kantor selesai ditata di tempat tujuan tiba, sang mitra berbaik hati menawarkan agar saya menginap saja di villa miliknya, saya mengiyakan bukan karena kecantikan villanya tetapi rimbunnya pohon cemara yang sejuklah yang membuat saya mengiyakan kebaikannya.

Gerimis di luar villa dan kabut tebal yang membekap mengurung saya untuk tidak beranjak dari Vitamin T, saya tak ingin melewatkan malam berlalu begitu saja, sebagian besar Vitamin T  saya benamkan di kepala, bagian lainnya lewat begitu saja. Bagian – bagian nikmat yang  berikutnya saya kunyah renyah sambil menikmati keteraturan seisi ruangan villa.

Di ruang beranda yang sederhana  tergolek beberapa bulletin Wanadri edisi lama. Saya buka lembar demi lembar. Bulletin seukuran majalah National Geographic yang sebagian besar mengulas kegiatan alam terbuka di Indonesia tersebut saya santap, termasuk di dalamnya kisah-kisah pendakian gunung Everest yang melegenda.

Di halaman terakhir tertera sederet bait renungan yang cukup menggoda,….tiba-tiba saja saya terinspirasi untuk membuat tulisan dan meresensi kisah pendakian Everest lewat artikel pendek di laptop yang saya bawa.

Satu artikel resensi pendakian Everest mengalir begitu saja , kata dan kalimat bertebaran liar tak beraturan memenuhi halaman layar komputer, semakin dipelototi paragraf demi paragraf yang saya tulis, semakin ketahuan kelemahan susunan katanya. Saya coba perbaiki agar lebih hemat dan tepat dalam memilih frase dan  kata.

Susah memang kalau mau mengungkap gagasan lewat tulisan, butuh kesabaran, perlu perjuangan dan ketelitian, malam ini apa yang ada di dalam kepala harus bisa saya ungkap lewat tulisan, pokoknya harus selesai, perkara bagus atau tidak…itu  nomor dua.

Menjelang jam tiga pagi catatan pendakian Everest nyaris memasuki paragraf akhir dan hampir tiga perempat bagian dari Vitamin T  sudah saya lahap.

 

Malam di villa kian menggigit, kesunyian merayap, hawa dingin kian menyergap, membuat saya harus berpindah  ke ruangan yang lebih hangat, kantung tidur yang sedari tadi tergolek disamping, saya gunakan sebagai selimut penghangat, rasa kantuk memaksa saya untuk segera istirahat, perlahan komputerpun saya matikan.

Halaman demi halaman, bab-demi bab, kutipan demi kutipan Vitamin  T  karangan penulis Hernowo ini saya tutup sesaat. Buku sederhana panduan menulis ini racikan menunya memang luar biasa. Ketika pulang ke Jakarta pun saya jadi telat dan kena damprat.

Tapi bacaan Vitamin T  sungguh memikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *