episode pembuka bukit menggoda di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/02/28/episode-pembuka-bukit-menggoda/

Episode Pembuka Bukit Menggoda

Pergerakan latihan operasi gunung hutan diawali dari desa Pasanggrahan, dusun sepi di kaki G Burangrang, Purwakarta, Jawa Barat. Siswa dipecah jadi dua kelompok besar, kelompok  pertama terdiri dari 8 regu sedangkan kelompok kedua terdiri dari 7 regu.  Masing-masing regu terdiri dari 5 hingga 6 orang, mereka harus mampu memploting posisinya sendiri di peta operasi. Format ploting posisi didesain sedemikian rupa sehingga sejajar dengan jalan ‘makadam’ yang tertera di peta operasi.

Episode Pembuka Bukit Menggoda
Pastikan Dimana Posisimu Berada

Peta AMS (Atlas Map Service) hitam putih terbitan 1932 jaman Belanda memang cocok untuk operasi-operasi detail seperti ini. Kami cukup ‘akrab’ dengan peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung ini, yang kerap dijadikan rujukan dan referensi mumpuni.

Plotting posisi tidak boleh salah, sebab bila langkah awalnya saja sudah keliru maka dijamin akan menghadapi kesulitan di tengah perjalanan sebelum mencapai pos akhir, ketelitian dalam membaca peta serta disiplin yang konsistenlah yang jadi tolok ukur utama.

Masing-masing regu dari kedua kelompok besar harus menuju dua bukit yang berbeda. Kelompok pertama menuju bukit Pasir Tenjo di sebelah Timur, sedangkan kelompok kedua menuju bukit Tegal Bagong di sebelah Barat. Kedua bukit itu dijadikan pos utama, bila  berhasil masuk pos utama maka  punya kesempatan untuk beristirahat dan bermalam di pos tersebut, tetapi apabila gagal masuk pos dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka pastilah mereka akan mengalami ‘penderitaan’ tersendiri. Itulah aturan latihannya.

Titik Koordinat Upayakan Mendekati Presisi saat episode pembuka bukit menggoda di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/02/28/episode-pembuka-bukit-menggoda/#more-280
Titik Koordinat Upayakan Mendekati Presisi

Sasaran kunci yang harus ditembus oleh kedua kelompok besar ini sebelum menuju pos utama adalah, harus bisa mencapai pos-pos antara yang dibangun acak diseantero medan latihan. Pos-pos antara  cukup strategis dan dijadikan pos pengikat, areal pergerakan siswa bisa diawasi dari kejauhan oleh para pelatih lapangan dari sisi punggungan yang cukup terbuka.

Bendera warna warni lah yang dijadikan pertanda pos antara, bukan bangunan yang dijaga manusia. Pos antara hanya bisa dicapai dengan menggunakan sudut kompas, apabila berhasil ditemukan maka dijamin, dari sinilah mereka akan melakukan by pass menerabas belantara untuk mencapai bukit utama, dan  pergerakan tahap berikutnya mengerucut ke satu bukit yang lebih jauh dan lebih tinggi yaitu pos akhir di bukit Pasir Kutu. Inilah esensi operasi tahap awal navigasi gunung hutan di alam terbuka .

Demikianlah skenario yang telah dirancang sejak awal, pelatihpun dibagi menjadi dua tim besar, masing-masing dikomandani oleh satu orang  yang  bertanggung jawab dalam mengatur pergerakan sumber daya yang ada. Kemampuan manajerial operasi lapangan  dituntut tanpa cela. Daya dukung  perbekalan yang sudah dirancang jauh hari oleh tim logistik  nyaris sempurna.

Para pelatih lapangan tinggal mengefektifkan paket – paket perbekalan yang telah didesain sedemikian rupa. Ihwal bagaimana cara mengaturnya di lapangan diserahkan kepada masing-masing pelatih. Inilah esensi latihan, sebuah skenario cantik yang muskil bisa dilakukan tanpa kesiapan matang dan perencanaan yang terperinci.

Bertanya Pada Yang Ahli saat episode pembuka bukit menggoda di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/02/28/episode-pembuka-bukit-menggoda/#more-280
Bertanya Pada Yang Ahli

Sang Komandan Operasi berkali kali menekankan kesiapan dan kesigapan para perlatih di lapangan. Ini adalah paruh yang kedua kalinya ia memegang kendali operasi latihan yang memiliki durasi panjang – tiga puluh hari – lamanya. Staminanya yang cukup terjaga menjadi inspirator bagi staf-staf dibawahnya. Saya kebagian tugas di pos Pasir Tenjo-pos  yang belum pernah saya pahami sebelumnya-, tapi namanya tugas…apa boleh buat.

Secara teori Pasir Tenjo cukup terbuka dan mampu menguak pandangan ke segala arah, tempat ini jauh lebih mudah dicapai dari desa Pasanggrahan dengan mengikuti route penebang kayu, meniti jalan kampung selanjutnya melipir beberapa bukit dan punggungan panjang. Itulah jalan pintas yang masih bisa dilakukan. Ngos-ngosan juga.

Berbeda dengan Tegal Bagong yang tersembunyi, pos yang pencapaiannya cukup menguras tenaga ini   agak terhalang punggungan dan sedikit bergelombang. Tantangannya jauh lebih bervariasi dan menuntut kejelian ekstra. Saya agak mengerti benar karakteristik medan yang dijepit parit dan dinding pematang ini.

Enam kali bertugas di pos ini rasanya cukup memberikan gambaran yang jelas dalam memetakan setiap celah, bukit, punggungan, lintasan jalan setapak, jalur evakuasi emergency serta sumber air yang tersedia di dalamnya. Paling tidak, kemana saya harus berlari, menghadang dan menggiring siswa apabila mereka tersasar. Tapi di pasir tenjo ?

Sungguh sebuah tantangan yang menggoda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *