episode kedua bertarung di pasir kutu di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/03/06/episode-kedua-bertarung-di-pasir-kutu/

Episode Kedua Bertarung di Pasir Kutu

Supervisor operasi gunung hutan kami marah-marah, ia menunjukan ketidakpuasan pada pola pergerakan operasi navigasi terbuka antara dusun Pasanggrahan dan bukit Pasir Tenjo. Hampir tak ada satu regu pun yang berhasil masuk ke bukit yang tingginya hanya 800 meteran dari atas permukaan laut itu. Peristiwa  langka ini jadi bahan evaluasi yang tajam diantara kami. Sang supervisor yang mantan staf Operasi Ekspedisi G Leuser tahun 94 ini menumpahkan kekecewaannya pada kami.

Saya memahami kegundahannya, karena dalam sejarah Pendidikan Dasar Wanadri, baru kali inilah operasi navigasi terbuka yang tak berhasil mengantarkan para siswanya mencapai pos pada waktu yang telah ditentukan. Kegundahannya yang meledak-ledak dilontarkannya pada kami saat briefing malam, nyaris tanpa sekat, bebas, lepas.

Saya agak miris juga dan tersentak dengan ketajaman kritikannya. Menggugah saya  untuk membuka kembali rancangan operasi dan skenario pergerakan navigasi terbuka, apakah ada missing design ?.

Penguasaan medan latihan dan sistem covering merupakan hal yang mutlak dikuasai bagi para pelatih lapangan. Saya menyadari keterbatasaan para pelatih muda dalam mengoperasikan navigasi di medan yang cukup terbuka ini, tapi bagi sang supervisor, keterbatasan itu tak boleh ditolerir dalam sebuah pergerakan latihan, karena menyangkut keselamatan orang banyak. Kesiapan perencanaan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Episode Kedua Bertarung di Pasir Kutu
Menentukan Posisi Dengan Pasti

Ditengah hujan deras dan rasa lapar yang menyergap, briefing malam jadi kian memanas manakala dibeberkan sistim dan pola pergerakan yang semakin kentara deviasi nya.

Penempatan pos-pos antara sebagai acuan titik kedatangan, jaraknya ternyata terlalu berjauhan. Aspek waktu tempuh dari satu titik koordinat ke titik koordinat lain belum dipertimbangkan dengan matang, mobilisasi pelatih belum sepenuhnya dioptimalkan dalam mengcover area. Karuan saja tak ada siswa yang berhasil sampai pos akhir. Survey yang detail serta plotting yang akurat menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi.

Briefing malam yang sial’.., begitu saya mengumpat dalam hati. Tak ada gelagat langit akan cerah, tak ada sebiji bintang pun nongol di angkasa. Pos kedua di Bukit Tegal Bagong yang jaraknya seharian dari tempat sini tersembunyi di balik punggungan, tertutup hutan rapat. Suasana malam kian senyap.

Sesekali terdengar hubungan komunuikasi lewat pesawat handy talky ke pos kami. Markas komunikasi yang posisinya di pos Pasanggarahan jadi penghibur manakala deretan lagu-lagu diluncurkan lewat radio transmitter. Besok kami harus bangun lebih cepat untuk mengatur pergerakan selanjutnya.

Barisan pasukan yang dilepas dari bukit Pasir Tenjo gagal mencapai bukit Pasir Kutu. Upaya menangkap regu yang berserakan disekitar punggungan rada terhambat karena hujan lebat dan kabut tebal membatasi jarak pandang yang makin sempit. Udara dingin yang kian menggigit serta lapar yang menyergap sudah tak diperdulikan lagi.

Episode Kedua Bertarung di Pasir Kutu
Meyakinkan Sasaran Dituju Sudah Pasti

Tiga personil yang bertanggung jawab mengcover area pergerakan berbagi tugas memagari punggungan barat agar tak tertembus siswa, bila lolos akan sangat berbahaya, dan pasti sulit mengejar dan mencarinya. Hutan yang rapat, itulah masalahnya.

Punggungan di sisi barat memang cukup strategis untuk menghadang pergerakan pasukan, sementara personil yang jadi penanggung jawab penyapuan makin sulit dipantau karena tak dibekali radio komunikasi. Otomatis perkembangan pergerakan siswa dibawah tanggung jawabnya sulit terdeteksi.

Samar-samar saya menangkap laporan perkembangan  pergerakan pasukan yang terseok-seok yang dilepas dari pos Tegal Bagong. Alhamdulilah untuk sementara saya bisa bernafas lega.

Tapi arloji di tangan sudah bergerak nyaris ke angka lima. Kabut tebal semakin berat membekap. Tidak ada tanda-tanda yang menggembirakan ihwal pergerakan pasukan yang dilepas dari bukit Pasir Tenjo, bukit dimana saya bertugas. Sementara komandan bivoac di bukit Pasir Kutu berkali-kali memanggil para perwira lapangan Pasir Tenjo.

Panggilan menjadi sia-sia karena batere handy talkie sudah sangat lemah, celakanya batere cadangan di kantong sudah ludes, kontak komunikasi jadi tersendat. Kami harus kembali lagi ke jalan setapak, letih meniti pematang yang becek guna mencari regu-regu yang tercecer.

Bila kondisi sudah kritis seperti ini, pergerakan pelatih harus cermat dan cepat, ransel dibawa jadi beban yang mengganggu. Dengan sangat terpaksa carrier di punggung saya persona non gratakan di gubuk pinggir hutan, terasa sekali  pergerakan jauh lebih lincah. Menyesal juga saya tidak membawa daypack cadangan yang lebih kecil, tapi ya apa boleh buat.

Membidik Sasaran saat episode kedua bertarung di pasir kutu dalamhttps://jelajahtapak.wordpress.com/2012/03/06/episode-kedua-bertarung-di-pasir-kutu/#more-424
Membidik Sasaran

Memasuki medan latihan baru memang dibutuhkan ketenangan, observasi medan yang mendalam menjadi hal yang mutlak diperlukan.Tidak seperti biasanya saya jadi agak ragu memahami sistim pergerakan dari bukit Pasir Tenjo ke bukit Pasir Kutu ini, bahkan terkesan bingung.

Komandan operasi ‘Gunung Hutan’ putar otak bagaimana caranya agar mampu mengendalikan lajunya pergerakan. Sepintas rencana-rencana operasinya seolah menjadi berantakan, padahal unsur detail pergerakan begitu rinci ia sampaikan pada briefing semalam.

Bisa jadi tekanan latihan yang hebat membuat ia gamang memutuskan. Tidak mudah memang menjadi pemimpin pasukan, namun kesabarannya yang luar biasa mampu menggerakan saya mengikuti pergerakan laki-laki kurus satu ini sejak awal.

Kami kembali memutar arah mendekat lagi ke bukit Pasir Tenjo guna mencari tiga regu yang belum berhasil tergiring. Namun strategi pencarian dirubah, tidak lagi meniti pematang, tetapi memotong punggungan agar bisa menemukan jalan setapak yang dibatasi parit.

Saya ingat benar, parit ini dijadikan garis penghadang pergerakan siswa. Ahamdulilah, strategi ini berhasil. Saya melihat sejumlah pelatih seperti kehilangan orientasi menentukan ke arah mana pasukan harus dibawa.

Untung saja kami masih merekam lintasan yang baru saja dilewati. Walhasil, menjelang malam seluruh pasukan terseok-seok meniti jalan setapak diantara  pematang sawah yang becek dan berlumpur.  Keputusan tiga personil yang keluar kandang di wilayah Pasir Kutu adalah langkah yang tepat.

Mereka menjemput di pertigaan sungai lalu menggeret regu-regu pasukan yang kehilangan orientasi, selanjutnya pasukan ditarik beriringan  menuju pos di bukit Pasir Kutu.

Tebaran tenda pelatih di bukit Pasir Kutu terserak dimana-mana, cahaya lilin dari bilik – bilik tenda pelatih  jadi pemandangan indah. Tempat seluas lima kali lapangan basket ini terasa sesak,  bivoac siswa berdesakan menempati wilayah yang terisolasi.  Saya terlambat mengikuti briefing malam, keasyikan membersihkan badan dan pakaian yang penuh lumpur. Tulang-tulang sendi serasa rontok ketika air pancuran dingin menggelontor mengguyur punggung. Rasanya malam ini ingin istirahat dan mengendurkan otot-otot setelah dipacu ketegangan seharian.

Mendirikan tenda di malam kental seperti ini bukanlah pilihan nyaman. Beruntung menemukan gubug tersembunyi yang akan kami tempati barang semalam.

Gelap kian pekat, senda gurau para pelatih makin senyap. Bara–bara api ungun perlahan lenyap. Sesekali satu dua orang pelatih yang tengah piket malam menyelinap dibalik kegelapan. Hanya bayangannya saja yang tampak.

Andaikan malam ini kabut sirna, mungkin saya bisa menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu perkampungan nun jauh di lembah sana, namun kabut tebal yang menghalangi jarak pandang seperti tak memberi kesempatan sedikitpun untuk bisa dilihat mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *