bertamu ke alun-alun suryakencana di https://jelajahtapak.wordpress.com/2012/12/18/bertamu-ke-alun-alun-suryakencana/

Bertamu Ke Alun-Alun Suryakencana

Mendaki dua gunung berbeda di paruh minggu yang sama sungguhlah menguras tenaga. Antara G. Burangrang di Purwakarta dan G. Gede Pangrango di kawasan Cipanas ketinggiannya memang tak terpaut beda, tapi yang jelas G. Gede lebih menjulang 2220 m dpl tingginya. Gunung Gede memancarkan keperkasaannya di  ke tiga kota seperti Cianjur, Sukabumi dan Bogor, siapa sih yang tak mengenalnya.?, saya mengulangi pendakian setelah puluhan tahun absen mendatanginya, musim hujan  di bulan Desember jadi tantangan yang menggoda.

Sebelas orang, 4 wanita dan 7 pria menjadi tanggung jawab saya untuk mengelolanya. Berbeda ketika mendaki gunung sendirian, segala tanggung jawab adalah urusan personal, tetapi bergabung dengan rekan lain seperjalanan apalagi minim pengalaman jelaslah perlu tenaga dan pengelolaan ekstra.

Saya rancang jadwal sederhana, kira-kira begini, berangkat Kamis sore sepulang kerja , Jumat mendaki seharian lalu Sabtu sore sudah tiba kembali di  Jakarta. Usulan disetujui semua, maklum hari Jum’at yang mestinya ngantor  berganti jadi mendaki, kalau Sabtu sudah tiba di Jakarta, itu berarti hari Minggu nya masih bisa jalan-jalan di Mall Ibu Kota…, skenario sederhana yang di amini semua.

Beramu Ke Alun-Alun Suryakencana
Alun-Alun Suryakencana

Sejak meninggalkan Jakarta hujan terus mengguyur tanpa jeda, tiba di desa gunung putri menjelang tengah malam, tak banyak yang bisa dilihat, warung-warung yang biasanya ramai menutup pintu rapat-rapat,  hawa dingin cepat merayap, maklum saja desa ini merupakan kaki G.Gede yang paling dekat dibanding jalur Cibodas atau jalur

Selabintana. Lima belas menit bergerak menanjak menuju penginapan yang disewa dari penduduk setempat menghangatkan badan dengan sedikit keringat, packing perlengkapan dan perbekalan harus diselesaikan malam itu juga sebab besoknya jam delapan pagi harus meninggalkan lokasi meniti jalan setapak agar tak kemalaman sebelum tiba di alun-alun Suryakencana-sebuah dataran luas mirip ‘savana’ yang dijejali hamparan ‘edelweis’-.

Di dataran inilah rombongan kami nantinya bermalam.

Tak kurang dari 100 orang mendaki di hari yang sama, tim kami adalah diantaranya. Jalur  gunung Putri dari dulu tanjakannya tidak pernah berubah, tidak bertambah tinggi atau bertambah rendah, tapi degup nafas  yang keluar seperti meledakan dada. Bergerak dalam langkah lambat dan konsisten jauh lebih berguna ketimbang memaksakan diri melesat cepat,tenaga memang harus dihemat.

Selepas dzuhur langit diatas tajuk-tajuk pohon rimba tropika ini masih biasa saja, tapi menjelang ashar tumpahan hujan dari angkasa tiba-tiba mendera, bahkan selepas tanjakan terakhir memasuki pintu alun-alun Suryakencana-demikian para pendaki menyebutnya-, hujan semakin menggila.

Beramu Ke Alun-Alun Suryakenca
Berbaris Babaduyan

Hempasan angin dingin mulai menggigit kesepuluh jemari  dan ujung telapak kaki, seperti membeku. Alun-alun Suryakenacana tempatnya memang terbuka, jadi angin begitu bebas menyapu ke segala arah. Saya harus ambil strategi lain agar rombongan yang berada di belakang bisa bergerak lebih cepat  menuju lokasi berkemah yang sudah dibangun oleh tim pendahulu.

Bisikan kopi hangat dan teh panas yang sudah tersedia di tenda, paling tidak bisa memacu semangat agar pergerakan dipercepat.

Benar juga.., empat buah tenda ‘doom’ yang masing-masing mampu memuat 3 orang  di dalamnya sudah ‘ajeg berdiri, terlindung dari tempat terbuka, dikelilingi rimbunnya belukar ‘strawberry ’ dan tegakan  ‘cantigi’. Berganti pakaian kering lalu berlindung di dalam tenda sambil menikmati hangatnya teh dan seduhan kopi, paling tidak mampu mengembalikan kondisi tubuh untuk sementara.

Kami yang merancang perjalanan bergegas menyiapkan menu malam di tempat yang berbeda, sebuah pondok sederhana dibangun dengan menggunakan material pepohonan yang ada’ lumayan bisa menampung orang lebih dari lima.

Hawa malam di Suryakencana tidak dilewatkan begitu saja, selepas hujan reda  penataan tempat bermalam, ditata lagi. Api ungun kecil dipaksa harus nyala, kayu bakar diambil dari sisa-sisa yang ada, tentu atas seijin pengelola Taman Nasional yang menemani sepanjang perjalanan ini.

Bisa dibilang inilah makan malam yang paling luar biasa di Suryakencana setelah puluhan tahun jarang menjejak hamparan edelweis yang sering dikunjungi para pendaki dari berbagai kota. Saya memilih tidur di luar tenda mendekati api unggun yang terus menyala hingga menjelang sholat subuh tiba.

Upaya untuk mengabadikan sunrise di puncak G.Gede tak kesampaian, hampir sebagian besar rombongan bangun subuhnya kesiangan, bisa jadi kelelahan karena perjalanan panjang atau disergap rasa nyaman di balik kantung tidur yang menghangatkan badan.

Tapi ‘summit attack’ demi mencapai puncak mungkin bisa menjadi penghibur sekaligus pelepas sensasi. Saya sendiri lebih menikmati hangatnya kopi, sekaligus melunasi hutang semalam yang belum tuntas menghabisi aromanya karena keburu ‘nyungsep’ di balik ‘sleeping bag’.

Sesi terakhir menuruni alun-alun Suryakencana dan meninggalkan gerbang utamanya jelas butuh tenaga juga, yang menjadi tantangannya adalah bagaimana agar berhati-hati dan tidak terburu-buru.

Bertamu Ke Alun-Alun Suryakencana
Pagi Di Aluln-Alun Suryakencana

Licin bekas hujan semalam bisa bikin celaka, tapi untung saja jalur pendakian gunung putri di bulan Desember ini banyak peminatnya, tak kurang dari 600 pendaki merangkak pelan menuju Suryakencana, sama pelannya ketika sehari sebelumnya kami terengah-engah juga melewatinya.

Enam ratus pendaki itu jumlah yang luar biasa untuk jalur ini !, demikian penjelasan pemandu kami, biasanya sih kuotanya hanya dua ratusan, lagi-lagi ia menambahkan.

Dua hari sebelum pendakian kami memang diberi tahu pihak Taman Nasional bila jalur Cibodas dan Selabintana ditutup sementara guna perbaikan. Pantas saja semua pendaki mengalihkan ‘trekking’ nya ke jalur gunung Putri.

Penumpukan pendaki di pos lapor jadi pemandangan mengasyikan, semangat mendaki dan pergi ke gunung tak bolehlah berhenti, tapi tujuan mendaki yang utama adalah pergi dengan semangat dan kembali dengan selamat, seselamat rombongan kami tiba kembali di pos lapor sore hari ini.

Mari mendaki dengan semangat tinggi..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *