Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Mekarkan 7 Kelopak Bunga

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Mekarkan 7 Kelopak Bunga

Pusma Langka  Rafflesia arnoldii Padma Raksasa Mekarkan 7 Kelopak Bunga nya di kawasan hutan belukar Sungai Penangkulan, Desa Manau IX Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

Berita mekarnya sang Padma Raksasa mulai menyebar tanggal 18 Februari 2018 di beberapa media local dan nasional.

Lazimnya, Puspa Langka yang terancam keberadaannya ini berkelopak lima, namun temuan tahun ini tak diduga, Rafflesia arnoldii sang Padma Raksasa memekarkan 7 kelopak bunga nya dengan sempurna, sebuah fenomena langka yang terjadi di habitat aslinya.

“Ini pertama kali terjadi”, kata Koordinator Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka, Andri Yan. Kelopak bunga mulai membuka pada Minggu siang, 14 Januari 2018. Heran bercampur bangga, mereka menghitung ulang dengan seksama, ternyata puspa langka yang terancam kepunahannya ini memekarkan 7 kelopak bunga nya dengan sempurna.

“Sebuah momen langka” ujarnya, peristiwa yang jarang kami jumpai, oleh karena itu masyarakat harus bangga bahwa puspa langka Rafflesia arnoldii yang hanya bisa tumbuh di Indonesia ini hendaknya terus dipelihara dan dijaga di habitat lingkungan aslinya dengan seksama.

Mitos Penemuan Puspa Langka Sang Padma Raksasa

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Dibalik keajaiban  mekarkan 7 kelopak bunga nya, ada mitos lain dibalik penemuannya.

Dikisahkan, dalam penjelajahannya di hutan belantara Sumatera Dr Joseph Arnold, seorang dokter dan pecinta alam di abad ke 19, sangat takjub saat pertama kali melihat Puspa Langka yang dilindung ini di pedalaman Manna, Bengkulu Selatan pada tahun 1818.

Ketakjuban dipicu karena sebagai penjelajah dan pecinta alam, ia melihat bahwa Padma Raksasa ini bisa mekar hingga mencapai 110 cm, sangat berbeda dengan kebiasaan bunga-bunga langka lainnya di negeri tropis yang dikunjunginya.

Luar biasa.

Nama lokasi dimana Dr J. Arnold pertama kali melihat sang Padma Raksasa tersebut bernama Pulo (Pulau) Lebbar, sebuah tempat yang hanya dapat dijangkau oleh ekspedisi pada kala itu dalam waktu dua hari perjalanan, menyusuri Sungai Manna.

Dikabarkan pula selama ekspedisi di daerah tersebut,  Dr J. Arnold, yang namanya diabadikan pada salah satu jenis Rafflesia itu, meninggal karena malaria, dan kelak nama Arnold diabadikan pada tumbuhan ini dengan inisial spesies arnoldii.

Tapi bagaimana kisah penamaan pertama kali tentang jenis Puspa Langka ini ?

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Sang Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Proses penamaan pertama kali untuk jenis Rafflesia memiliki kisah rahasia, melibatkan intrik, politik dan gengsi ilmuwan antar negara-negara dataran Eropah yang saat itu tengah berkonflik. Diceritakan, ternyata orang asing pertama yang melihat jenis Rafflesia bukanlah Stamford Raffles ataupun Dr Joseph Arnold, tetapi Louis Auguste Deschamp, seorang dokter dan penjelajah alam langka berkebangsaan Perancis, yang pada akhir abad ke 18 berlayar ke Jawa.

Deschamp pertama kali melihat, mengumpulkan spesimen, dan menggambarkan Puspa Langka yang ditemukannya di Pulau Nusakambangan pada tahun 1797 atau 20 tahun lebih dahulu daripada penemuan Dr Joseph Arnold yang menggemparkan itu.

Sang Ilmuwan menemukan Rafflesia jenis R.Patma. Hampir sebelas tahun ia meneliti di Indonesia hingga tahun 1798.

Tapi tahun 1803 merubah perjalanan sejarah berikutnya,

Deschamp kembali ke Perancis dengan membawa semua koleksinya, namun saat mendekati Selat Inggris, kapalnya ditangkap dan semua koleksi, manuskrip dan ilustrasi catatannya dirampas sebagai pampasan perang oleh Inggris. Saat itu Perancis dan Inggris memang tengah berperang.

Dari rampasan koleksi spesimen tersebut itulah, para ahli botani Inggris sadar bahwa Deschamp telah menemukan jenis tetumbuhan yang sangat unik dan tidak pernah dilihat sebelumnya, yang mampu mekarkan kelopak bunganya berukuran raksasa.

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Ilustrasi, Sumber WWF

Mereka berpendapat siapapun orangnya, jenis tanaman yang mampu mekarkan 7 kelopak bunga nya itu  harus didiskripsikan atau dinamakan oleh orang Inggris, bukan Belanda apalagi Perancis. Sehingga Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris di Bengkulu, memerintahkan William Jack untuk segera mendiskripsikan jenis yang ditemukan di Bengkulu Selatan (Nais, 2001; Meijer, 1997).

Diakui bahwa Thomas Stamford Raffles memang bukan penemu pertama. Namun, ia menemukan Rafflesia jenis lain.

Raffles menemukannya bersama ilmuwan lain bernama Joseph Arnold di Bengkulu pada 19 hingga 20 Mei 1818. Maka dari itu, penamaan bunga raksasa adalah gabungan kedua ilmuwan, Raffles sebagi nama genus dan Arnold sebagai nama spesies yang saat ini dikenal dengan Rafflesia arnoldii.

Baru pada tahun 1954, kejujuran yang mecengangkan dunia ilmiah pun diketahui bahwa Deschamps lah yang pertama menemukan Rafflesia

Ada semacam kompetisi rahasia antar ahli botani saat itu tentang siapa yang berhak menerbitkan jenis Puspa Langka yang di negara kita  dikenal dengan Padma Raksasa.

Belum ada penjelasan resmi mengapa sang Padma raksasa mampu mekarkan 7 kelopak bunga nya, tapi kita harus percaya bahwa para ahli puspa langka Indonesia akan mampu menjelaskannya. Bunga langka ini memang sangat khas tumbuh di iklim Indonesia, sayangnya usia mekarkan kelopak bunga nya tak bias berlangsung lama, hanya 3-5 hari, selanjutnya layu dan membusuk.

Begitulah siklus hidupnya.

Ternyata Mitos Penelitian Terus Dikembangkan Pada sang Padma Raksasa

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Bila dianggap menjadi sebuah kontroversi, faktanya Rafflesia arnoldii memiliki ciri-ciri botani yang berbeda dengan tumbuhan lainnya.. Apa yang menjadi pembeda sehingga bunga langka yang mampu mekarkan kelopak raksasa nya ini memiliki sifat biologi khas tersendiri ?

Ini dia.

Padma Raksasa adalah Puspa Langka dimana  untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya menggantungkan sumber energi pada tanaman inangnya. Bunga raksasa berumur pendek ini kerap menempel pada batang liana, yakni tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma yang mengandung banyak air, mengindikasikan bila Rafflesia resisten terhadap kekeringan.

Dari struktur morfologinya saja terlihat bahwa sang Padma Raksasa hanya memiliki mahkota, bahkan sebagai tanaman parasit, Puspa Langka ini tidak memiliki akar ataupun tangkai. Terlebih, tumbuhan ini pun tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesa.

Dan inilah istimewanya, Puspa Langka Rafflesia arnoldii  hanya mampu hidup dan berkembang di lingkungan aslinya. Para ahli biologi terus berjuang meneliti agar bunga raksasa ini bisa dikembangkan dan dibudi dayakan di luar habitat aslinya.

Di habitat aslinya di kawasan hutan Provinsi Bengkulu telah teridentifikasi empat jenis bunga ajaib ini yakni Rafflesia arnoldii, Rafflesia bengkuluensis, Rafflesia gadutensis, dan Rafflesia hasselti.

Prinsip Pengetahuan Vs Mitos Mengerikan sang Padma Raksasa Di Habitat Aselinya

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Di balik keindahannya, Puspa Langka Rafflesia arnoldii menyimpan mitos mengerikan yang dipercaya masyarakat Provinsi Bengkulu, terutama masyarakat Suku Rejang dan Suku Serawai.

Masyarakat Suku Rejang mendiami daerah perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong.

Daerah-daerah itulah habitatnya Rafflesia arnoldii.

Sang Padma Raksasa, sebutan kebanggan orang Indonesia bentuknya menyerupai bokor atau tempat sirih, bentuk ini pula yang dijadikan ikon kota Bengkulu hingga kini, dan sebagian warga setempat menyebut Puspa Langka yang terancam keberadaannya ini sebagai bunga Bokor Setan.

Sebagian lainnya menyebutnya sebagai Ibeun Sekedei atau Cawan Hantu, penamaan itu lagi-lagi merujuk pada bentuk bunganya yang menyerupai bokor atau tempat sirih.

Suku Rejang memercayai bunga tersebut sebagai bokor sirihnya para penunggu hutan, baik itu berupa makhluk mistis maupun hewan buas, seperti harimau. Karena itu, warga Suku Rejang dulunya sangat menghindari bunga Raflesia di tengah hutan.

Puspa Langka Rafflesia Arnoldii Padma Raksasa Ternyata Punya Mitos Mengerikan

Rafflesia Arnoldii Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Sumber : WWF

Mitos hantu, setan, hingga harimau yang begitu kuat melekat di benak suku Rejang membuat warga selalu menyingkir jika bertemu bunga itu. Tidak ada warga yang berani mengusik karena mereka takut terkena bala. Karena itu, bunga bangkai, demikian masyarakat awam menyebutnya bisa berkembang baik di kawasan hutan Bengkulu.

Berbeda dengan Suku Rejang, warga Suku Serawai memberikan nama berbeda bagi Padma Raksasa ini, mereka menyebut Raflesia arnoldii dengan sebutan Begiang Simpai atau bunga monyet, penamaan itu merujuk pada keanehan bunga yang tumbuh tanpa musim.

Ketiadaan daun dan akar yang jelas dari Puspa Langka ini membuatnya dipercaya sebagai bunga mistis. Mitos sebagian warga menyimpulkan bunga itu selain milik penunggu hutan, juga bunga yang muncul tumbuh karena sisa makanan monyet.

“Umumnya warga Suku Serawai tidak akan mengusik bunga ini. Karena percaya bunga ini, kalau tidak membawa keberuntungan, pasti membawa kesialan,” ujar Noca Alinin, warga Desa Ulu Talo, Kabupaten Seluma.

Pada sebuah mitos jarang ditemukan kebenaran, tetapi di dalam mitos tersembunyi pesan-pesan kearifan lokal ,tertanam nilai-nilai lingkungan dan kebijaksanaan

Tinggalkan Balasan